Anandapedia
Artikel kesukaan ku & Kesukaan mu
Selasa, 19 Januari 2016
Tetang Dia
Beberapa bulan yang lalu, jauh sebelum dia terang-terangan mengungkapkan perasaannya, di antara puluhan laki-laki yang kuyakinkan ga akan mampu mengusik kebatuan perasaanku, ada dia yang tiba-tiba mengusik pikiranku, menyita perhatianku dan mengambil banyak waktuku hanya untuk duduk memandangnya. Sampai pada suatu hari, saya kaget dengan tingkah sendiri.
Suatu hari, saat itu masih kagok menjalankan tugas ngadminin grup, saya melaporkan situasinya ke ruang admin. Padahal ada beberapa laki-laki di sana yang tanggap dan langsung memback-up saya, tapi ga sadar hanya nama dia yang tersebut dan mendapat ucapan "terima kasih". Orang lain yang melihat, pasti hanya tertawa geli melihat situasi yg awkward tsb. Dan bagiku itu masalah besar! Jarang sekali kesalahan kekurangtelitian untuk berterima kasih kulakukan selama ini. Berhari-hari peristiwa tersebut kuevaluasi, membuatku bertanya pada diri sendiri. "Apakah aku sedang jatuh cinta?" Pertanyaan seperti itu yang terus-menerus menjadi kesimpulan setelah mencoba berpikir dari segala sudut pandang. Lucu! Harusnya kesimpulan adalah hasil akhir dari segalanya. Namun, kesimpulan yang kudapat masih berupa tanda tanya. Tanda tanya yang tak terjawab sampai akhirnya aku benar-benar merasa tidak mau kehilangan dia setelah beberapa waktu kemudian dia menghilang begitu saja.
Dia tak pernah tahu hal ini.
Rabu, 16 Desember 2015
Qona'ah
Kekayaan yang sebenarnya, disebut QONA'AH.
Qona'ah meliputi 5 hal, yakni :
1.Menerima dengan rela apa yang ada;
2.Memohonkan kepada Allah swt. tambahan yang pantas dgn berusaha;
3.Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah swt.
4.Bertawakkal kepada Allah swt.;
5.Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.
" Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, tetapi kekayaan jiwa. Qona'ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap "( HR. Aththobari)
Minggu, 06 Desember 2015
Menghargai
Dulu, sewaktu masih senang bermain kata-kata, ada satu kalimat yang paling disukai:
life is like a bowl a cherrish.
saking sukanya, dulu sampai membeli segala aksesoris yang terkait dengan dua buah cherry yang tangkainya bersatu dengan lainnya. Cherrish terdengar mirip dengan cherish. Menghargai.
Setiap kita pastinya suka jika dihargai oleh orang lain. Namun, tidak jarang juga kita sering tidak dihargai oleh orang lain. Kita tidak bisa menyalahkan orang yang tidak menghargai kita seratus persen. Karena kadang kesalahan ada pada sikap kita sendiri yang membuat seseorang jadi tidak menghargai kita.
Sewaktu SMA, guru olah raga saya pernah berkata, "Jika kamu ingin dihargai, jangan banyak bicara. Jadilah pendengar yang baik. Karena orang yang banyak bicara itu ada banyak, namun yang mau benar-benar mendengar sangat sedikit jumlahnya."
Hari ini membahagiakan. Serasa diberikan semangkuk penuh cherry dari "keluarga" di GMDKK.
luv u all....
danke!
Jumat, 04 Desember 2015
Kata-kata
Hal yang paling menyengsarakan adalah di saat dirimu dinilai sempurna dan dituntut untuk selalu sempurna oleh orang-orang di sekelilingmu.
Apakah mereka akan mendengar di saat kamu kesusahan? Jarang! Sangat jarang yang mau menyediakan telinga untuk mau mendengar. Karenanya, jika ada yang mau melakukannya, hargailah!
Apakah mereka akan mau mengulurkan tangan saat kamu tidak sesempurna yang mereka inginkan? Jarang! Di zaman ini lebih mudah menghakimi seseorang daripada berusaha mengulurkan tangan atas kekurangannya. Karenanya, hormatilah yang mau melakukannya!
Berbicara tentang menghakimi.... yang terburuk adalah menghakimi seseorang lewat kata-kata. Kamu tak akan pernah tahu kata-kata mana yang paling melukai seseorang yang sedang kamu hakimi, sampai dia memilih pergi karena tidak kuat menerima lukanya.
Kamis, 03 Desember 2015
Penerimaan
Pada awal-awal sebuah hubungan, biasanya sering terselip kalimat "Aku menerimamu apa adanya", yang bisa membuat kita merasa nyaman untuk berharap melangkah bersama pasangan. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak sedikit yang lupa dengan kalimat tersebut. Alih-alih menerima pasangan apa adanya, menjadi banyak larangan dan pertengkaran karena pemikiran yang tidak sejalan.
"Kamu jangan seperti ini, aku tidak suka!"
"Jangan pergi jalan-jalan, tetap di rumah saja!"
"Jangan ngobrol sama orang lain! Aku ga suka!"
dan deretan JANGAN lainnya yang memicu ikatan tersebut putus di tengah jalan. (Ayo jujur, yang membaca pasti pernah merasakannya!). Apakah ada yg tahu, bahwa sekali kata "jangan" itu muncul, artinya orang yang berkata tersebut sedang meninggikan prioritas kedudukannya terhadap lawan bicaranya? Seberapa sering kata tersebut ternyata menjadi pedang tajam yang memutus sebuah ikatan?
Pada suatu hari, seorang teman bertanya via BBM, "Dari mana kamu yakin dia menyukaimu?" Itu sebuah pertanyaan yang tidak biasa dijawab dalam hubungan ini. Sebuah hubungan yang baru pertama kali kujalani, bentuk yang baru. Namun penerimaannya atas diriku sangat kuhargai.
Dia belum pernah berkata "jangan" padaku. Sampai sekarang pun belum pernah. Jika ada yang tidak dia sukai, dia mendahului pembicaraannya dengan kalimat, "Boleh minta sesuatu....?" Caranya menghargai dan menerima tukar pikiran antara kami berdua, membuatku merasa aman dan diterima tanpa harus mengucapkan "aku menerimamu apa adanya."
Selasa, 01 Desember 2015
Kepercayaan
"Apa ada alasan untuk tidak mempercayainya?" tanyaku balik.
"Gue cuma mau lu hati-hati aja, Kak. Lu udah sering disakiti." Aih...sweet banget deh juniorku ini.
"InsyaAllah, yang satu ini bisa kupercayai. Dia berbeda dari mereka yang biasa datang dan pergi dalam waktu singkat." jawabku meyakinkannya, juga meyakinkan hatiku sendiri.
Cinta adalah tentang kepercayaan. Saat sepasang manusia bisa saling mempercayai, di situlah cinta tumbuh dan bersemi dengan indah.
BERBAKTI KEPADA ORANG TUA.
-----------------------------------------------
Membaca salah satu catatan Wikipedia tentang Birrul walidain.
Dasar hukum
“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”.—(An-Nisa’:36).
“...dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. “...dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik saya waktu kecil".”—(Al Isra’:23-24)
“...dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”—(Luqman: 14)
“Katakan: Marilah kubacakan apa yang telah diharamkan kepada kalian oleh Rabb kalian yaitu janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang tua.”—(Al-An’am: 151)
“Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta”.
Hukum Birrul Walidain
Keutamaan Birrul Walidain
Melaksanakan Birrul Walidain
Sa’ad bin Abi Waqas – semoga Allah merahmatinya – menerapkan bagaiman konteks Birrul Walidain mempertahankan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat ibunya mengetahui bahwa Sa’ad memeluk agama Islam, ibunya mempengaruhi dia agar keluar dari Islam sedangkan Sa’ad terkenal sebagai anak muda yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ibunya sampai mengancam kalau Sa’ad tidak keluar dari Islam maka ia tidak akan makan dan minum sampai mati. Dengan kata-kata yang lembut Sa’ad merayu ibunya “ Jangan kau lakukan hal itu wahai Ibunda, tetapi saya tidak akan meninggalkan agama ini walau apapun gantinya atau risikonya”.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapanya…”(QS. Al-Ahqaaf: 15)
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS. Al-Israa’: 23-24)
Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata si Ibu sudah tidur. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang bekas berisi air tersebut hingga pagi. (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)
Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Ya, Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” (HR. Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.
Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.
Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akan dirinya.” (HR. Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam Al-Qur’an:
“Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” (QS. Ibrahim: 41)
4. Memuliakan Rakan-Rakan Kedua Orang Tua
Ibnu Umar berkata aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.” (HR. Muslim)
“Barang siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka sambunglah tali silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” (HR. Ibnu Hibban)

